Amerika Serikat Berikan Peringatan Baru untuk Vaksin Johnson & Johnson

By Nad

nusakini.com - Internasional - Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) Amerika Serikat menambahkan peringatan baru untuk vaksin COVID-19 miliki Johnson & Johnson karena adanya hubungan dengan kondisi neurologis yang jarang.

FDA mengeluarkan pernyataan pada hari Senin (12/7) bahwa mereka menerima laporan dari 100 orang yang mengidap sindrom Guillain-Barre setelah mereka mendapatkan vaksin pertama J&J.

Menurut FDA, sindrom Guillain-Barre terjadi ketika sistem imun merusak sel saraf, hal ini kemudian menyebabkan pelemahan otot dan kelumpuhan sesekali. Sekitar 3.000 sampai 6.000 orang di AS didiagnosis kondisi ini setiap tahunnya.

FDA mengatakan di antara 100 orang yang melapor, satu dari mereka meninggal dan 95 harus dirawat di rumah sakit. Sebagian besar dari kasus dilaporkan terjadi di pria usia 50 tahun dan lebih, biasanya dua minggu setelah disuntik.

Angka ini sangat sedikit jika dibandingkan dengan 12,8 juta warga yang menerima vaksin Johnson & Johnson, dimana vaksin ini juga sebagian kecil dari vaksin Amerika Serikat. FDA mengatakan setelah mereka mengevaluasi informasi yang diterima, keuntungan yang diketahui vaksin ini melebihi resiko yang ada.

Sebelumnya, FDA dan Pusat Pengendalian Penyakit (CDC) sempat menghentikan penggunaan vaksin J&J pada bulan April setelah beberapa wanita berusia di bawah 50 tahun mengidap gangguan pembekuan darah setelah vaksinasi, dimana salah satu dari mereka meninggal dunia.

Masalah lain terjadi pada awal tahun ini ketika jutaan dosis dirusak saat pabrik asal Baltimore menyampurkan vaksin J&J dengan bahan yang digunakan untuk vaksin yang dikembangkan AstraZaneca.

Perusahaan ini menyatakan mereka sedang berdiskusi mengenai laporan dengan FDA dan regulator kesehatan lainnya di seluruh dunia.